This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 26 April 2013

JUGUN IANFU

Oleh: kiki  novalia
Prodi sejarah
Bp: 2012

“Jugun Ianfu” tidak semua orang pernah mendengar kata-kata itu, ya memang. Kata-kata itu tidak populer ditelinga masyarakat awam. Karena kata-kata tersebut berasal dari bahasa Jepang yang dibahasa Indonesianya disebut budak seksual. Berbeda dengan istilah Comfort Woman, Jugun Ianfu yang ditujukan kepada perempuan yang dipaksa melacur oleh Jepang selama Perang Dunia II sedangkan Comfort Woman melacur karena keinginannya sendiri. Jugun Ianfu pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1942, dan menjadi awal kesuraman, dan catatan terburuk bagi  korban-korban Ianfu tersebut.
Kebanyakan dari korban Jugun Ianfu ini diculik dari rumahnya, tapi ada juga beberapa yang di iming-imingi pekerjaan dengan gaji yang “wah”. Setelah berhasil direkrut mereka ditempatkan diasrama yang yang berbilik-bilik yang biasa disebut ‘‘Rumah Bordil’’. Disana mereka menempati kamar satu-persatu, dan bagi para tentara Jepang yang ingin “memakai” perempuan yag ada dalam kamar yang telah ditempati oleh para-para Jugun Ianfu, tentara tersebut harus membeli tiket terlebih dahulu. Sampai di kamar yang telah dipilih dalam tiket, para tentara Jepang tersebut tidak segan-segan menganiaya para Jugun Ianfu baik dalam kekerasan seksual maupun dengan pukulan atau ancaman akan dibunuh jika para ianfu tidak mau melayani nafsu tantara tersebut. Para Jugun Ianfu tersebut harus melayani 4-15 orang tentara setiap hari tanpa mengenal waktu bahkan ada yang 24 jam nonstop. Benar-benar mengerikan. Tujuan dibentuknya Jugun Infu ini oleh militer Jepang supaya tentara yang bertempur dilini depan tata tertib dan mental mereka  tetap terjaga. Dalam keadaan apapun para Jugun Ianfu tetap harus melayani nafsu para tentara Jepang. Sungguh perbuatan yang keji dan mengoyak nurani.
Para Jugun Ianfu juga harus mengganti nama mereka dengan nama Jepang. Mereka hanya dapat waktu libur ketika hari-hari menstruasi atau hari tes medis tiap bulan. Hanya sedikit para Jugun Ianfu yang hamil karena Para Jugun Ianfu diberi Puyer atau pil anti hamil (sekarang), jika ada yang hamil maka akan diaborsi secara paksa tanpa memikirkan sakit dan ancaman kematian para Ianfu. Ada juga sejumlah Jugun Ianfu yang tidak bekerja di Bordil Militer, beberapa mereka ditawan dirumah seorang Jepang. Mereka dijemput dirumah dibawa ke rumah orang jepang lalu diperkosa selama 3 hari tanpa berhenti dan dibiarkan kelaparan.
Bagi penghuni asrama, yang sudah memiliki pelanggan tetap mungkin itu sedikit angin segar. Karena pelanggan tetap jarang yang menyakiti, mereka juga tidak mau memaksa. Kadang mereka hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol didalam kamar, bahkan ada yang membawakan pakaian, makanan yang bergizi, dan sedikit uang. Tapi tidak semua para Jugun Ianfu memiliki pelanggan tetap karena tidak semua berwajah “dipakai” mereka akan disuruh pulang ke kampung halaman. Ada juga para Jugun Ianfu yang meninggal karena serangan penyakit akibat penderitaan setiap hari. Tetapi mayat mereka dibuang keluar asrama dan diangkut ke tempat sampah, mereka tidak dimakamkan selayaknya manusia. Tak ada pengahargaan sedikitpun atas kemanusiaan.

JUGUN IANFU DI INDONESIA
        Masa remaja adalah masa yang paling indah, penuh suka cita dan cinta. Rasanya tidak ada satupun orang yang memimpikan masa mudanya yang indah dalam hidupnya dirampas secara paksa sehingga menjadi trauma seumur hidup. Periode penjajahan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945, menjadi masa yang paling kelam dan brutal bagi para perempuan dan remaja  Indonesia pada masa itu. Masa remaja para korban adalah tragedi kemanusiaan diantara ratusan ribu, bahkan jutaan perempuan Asia dan Belanda yang mengalami perbudakan seksual.
          Di Indonesia, tempat didirikannya asrama Jugun Ianfu yaitu di Telawang, Kalimantan Selatan. Disana lah tempat remaja-remaja yang berusia 11-21 tahun di jadikan Jugun Ianfu. Korban Jugun Ianfu umumnya direkrut dengan cara pengelabuan. Ada yang mendaftar ingin menjadi pemain sandiwara, pelayan rumah makan, ada yang ingin jadi pembatu rumah tangga. Mereka mendaftar didaerah mereka masing-masing lalu dijanjikan bekerja yang layak di Borneo. Sesampainya di pelabuhan Borneo mereka diangkut ke Telawang dan disuruh menempati asrama yang terlebih dahulu disediakan, disana mereka baru tahu kalau kedatangan mereka ke Borneo telah keliru. Mereka ditempatkan satu orang per-kamar dan dipaksa melayani nafsu tentara jepang yang berperang dilini depan. Para tentara tersebut diharuskan membeli karcis diloket depan pintu terlebih dahulu. Lalu mereka akan pergi  ke nomor kamar yang tertera di karcis tersebut. Karcis yang dibawa oleh tentara tersebut harus ditinggal didalam kamar setelah selesai menuntaskan nafsunya. Maka karcis-karcis itulah yang ditukarkan dengan uang oleh para Jugun Ianfu kelak, saat mereka sudah lagi bekerja untuk pulang keJawa.
          Para Jugun Ianfu juga dibekali 1,5 pak rokok Kooa setiap bulan dan bir, karena orang jepang suka mabuk-mabukan. Mereka sering bermabuk-mabukan sebelum meminta hubungan seksual. Diasrama para Jugun Ianfu diberi makan dua kali sehari, mereka harus pandai-pandai membagi waktu dan memanfaatkan situasi agar bisa makan. Kadangkala belum sempat makan tamu sudah datang. Setiap hari para Jugun Ianfu diharuskan melayani tentara Jepang dari 5-15 orang.
          Awalnya rombongan pertama penghuni asrama telawang berjumlah 35 orang, kemudian datang lagi rombongan kedua yang berjumlah 17 orang dan masih banyak lagi rombongan setelah itu. Umumnya korban dari Jugun Ianfu berasal dari Tanah jawa, dan kebanyakan dari Yogyakarta dan Jawa Timur. Sebenarnya bukan cuma perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi korban melainkan banyak lagi negara yang menjadi korban seperti negara : Indonesia, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Timor Leste, Filiphina, China, dan Belanda.

MENCARI KEADILAN
          Pada bulan April 1993 sejumlah anggota Federasi Asosiasi Pengacara Jepang datang ke Indonesia menemui Menteri Sosial Intan Suweno. Mereka mengatakan menyatakan akan membantu Jugun Ianfu Indonesia untuk menuntut kompensasi kepada Pemerintah Jepang. Inten Suweno menanggapi dan mengatakan bahwa Jugun Ianfu Indonesia harus dicari dengan melakukan pendataan. Dalam bulan yang sama Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta melakukan pendataan terhadap Jugun Ianfu. Selama enam bulan pertama lebih dari 300 Jugun Ianfu yang berhasil didata lembaga Bantua Hukum Yogyakarta. Sampai saat ini tercatat 1.156 Jugun Ianfu yang telah didata. Ada dua tuntutan Jugun Ianfu yang utama. Pertama,Pemerintah Jepang harus bertanggung jawab secara hukum yang bersifat resmi kenegaraan terhadap kebijakannya dimasa lampau karena telah menyelenggarakan sistem perbudakan seksual. Kedua, Pemerintah Jepang harus memasukkan masalah Jugun Ianfu kedalam sejarah Jepang agar diketahui oleh masa generasi muda.Pemerintah jepang memang telah menyatakan permintaan maaf, namun baru dalam konteks moral bukan pertanggung jawaban hukum.
Banyak korban Jugun Iafu yang telah meninggal tetapi ada juga beberapa yang masih hidup, umumnya mereka menderita kesehatan yang buruk akibat kekerasan fisik, psikologis, dan seksual selama mereka menjadi Jugun Ianfu, Dan juga mereka tak punya cukup uang untuk merawat kesehatan. Trauma akibat perbudakan seks yang mereka jalani pada usia yang masih sangat muda, tertekan secara sosial karena oleh masayrakat dianggap sebagai bekas pelacurdan manusia kotor, tertekan karena rasa bersalah karena telah menjadi Jugun Ianfu, dan para korban Jugun Ianfu dalam keadaan miskin karena ditolak bekerja ditengah-tengah masyrakat dengan alasan bekas pelacur.
Bulan Desember tahun 2000 para korban Jugun Ianfu mengunjungi Jepang guna bersaksi di Pengadilan Rakyat Perempuan Internasional untuk kasus perbudakan seksual militer Jepang yang diselenggarakan oleh Violance Against Women in War-Network Japan (VAWW-NET) dengan dukungan dari negara-negara korban seperti Indonesia, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Timor Leste, Filiphina, China, dan Belanda. Persidanga ini akan menguak fakta sistem perbudakan seksual semasa pendudukan Jepang di Asia tahun 1931-1945.
Majelis hakim yang memimpin persidangan terdiri dari Gabrielle Kirk McDonald dari Amerika Serikat sebagai hakim ketua, majelis ini beranggotakan Carmen Maria Argibay dari Argentina ( Ketua Asosiasi Internasional Hakim Perempuan), Willy Mutunga dari Kenya ( Ketua Hak Asasi Manusia di Kenya) dan Crhistine Chinkin dari Inggris (Anggota Profesor Hukum dari Universitas London). Sedangkan Jaksa penuntut umum diketuai oleh Ustina Dolgopol ahli undang-undang internasional dan Patricia Viseur-Sellers yang pernah menjadi penasehat hukum pada pengadilan internasional kejahatan perang di Rwanda dan bekas negara Yugoslavia.
Pengadilan ini berlangsung selama enam hari, tiba giliran survivoe Indonesia untuk bersaksi pada hari ketiga sidang berlangsung. Keempat survivor Indonesia Mardiyem, Suharti, Suhannah, Ema Kastimah maju ke persidangan untuk bersaksi. Dengan tenang para suvivor menjawab setiap pertnyaan yang diajukan oleh pengacara yang diketuai oleh Nursyahbani Katjasungkana, Sh.(Koalisi Perempuan Indonesia) dengan anggota antara lain Antarini Arna, SH,(Koalisi Perempuan Indonesia), Asnifrianti Damanik, SH.(LBH Apik), Paulus Mahalete, SH.(LBH Jakarta). Selain menghadirkan para korban untuk didengar kesaksiaanya, pengadilan ini juga menghadirkan saksi ahli untuk membuktikan kalau perbudakan seksual ini dilakukan secara sistematis dan terencana oleh kebijakan Kaisar jepang. Dalam dakwaannya, tim penuntut umum Indonesia menyebutkan tokoh-tokoh penting yang dianggap bersalah atas pendirian kam-perkosaan selama Jepang menjajah Indonesia 1942-1945. Para terdakwa itu antara lain: Kaisar Hirohito, Hideki Tojo, Rikichi Ando, Hata Shunroku, Seishiro Itagaki, Seizo Kobayshi, Iwan, Matsui, Yoshimiro Umezu, Hisaichi Terauchi, Tomoyuki Yamashita, dan Pemerintah Jepang.
Sidang ini penuh resiko, Indonesia juga menjadi target kemarahan para demonstran dari kelompok sayap kanan, dalam orasinya mereka menyatakan bahwa Jepang telah memberi kemerdekaan kepada Indonesia, kedatangan Jepang ke Indonesia telah mengakhiri kolonialisasi Belanda yang berabad-abad. Indonesia tidak tahu terima kasih kepada Jepang, malah ikut menyalahkan negara atas kasus perbudakan seksual. Tentunya menyulut kemarahan pihak Indonesia yang dipimpin olah Nursyahbani Katjasungkana, SH, Tim pembela hukum Indonesia usai sidang menggelar konferensi pers dan menyangkal keras tuduhan tidak berdasar kelompok demonstran yang secara terus menerus berorasi didepan Gedung Kudan Kaikan menolak persidangan perempuan internasional ini.
Hari terakhir sidang digelar ditempat yang berbeda yaitu di Gedung Nihon Seina-kan,Tokyo. Sidang ditutup dengan mengumumkan hasil rekomendasi dari para hakim. Setelah mendengar semua kesaksia korban. Hakim ketua menyatakan bahwa Kaisar Hirohito terbukti bersalah atas terjadinya perbudakan seksual di Perang Asia Pasifik, dan harus meminya maaf kepada setiap setiap korban.



 Catatan saya: telah kita lihat bahwa perempuan merupakan sasaran empuk dalam setiap perang untuk melemahkan pihak lawan. Kita sebagai generasi muda merasa berhutang kepada rahim-rahim mereka para korban Jugun Ianfu yang telah dirusak semasa Perang Asia Pasifk. Semoga tidak ada lagi kekerasan terhadap perempuan diseluruh dunia.


Referensi : Hindra. Eka, Kimurha. Koichi. 2007. Momoye Mereka Memanggilku. Jakarta. Erlangga.
Tulisan ini saya buat sebagai tugas ujian mid semester genap saya di STKIP ABDI PENDIDIKAN PAYAKUMBUH  atas rekomendasi dari dosen : bapak Fikrul Hanif Sufyan, SS. M. Hum


Kamis, 18 April 2013

BIOGRAFI BRUNO MARS

 

1985-2005: Awal Kehidupan

Jangan sangsikan musikalitasnya, karena dia juga berasal dari keluarga yang gemar seni, khususnya musik. Ayahnya, Pete, seorang New Yorker, adalah pemain perkusi. Ibunya, Bernie, berdarah Filipina keturunan “Puerto Rico”, adalah seorang penari hula. Pete dan Bernie memiliki 6 orang anak dan mengenalkan mereka pada berbagai jenis musik, reggae, rock, hip hop, dan R&B. Khusus untuk anaknya yang bernama Peter Gene Hernandez, Pete memanggilnya dengan nama Bruno, berhubung saat berusia 2 tahun, sang bayi bertubuh gempal, mirip dengan pegulat terkenal zaman itu, Bruno Sammartino. Nama itu yang kemudian dipilihnya sebagai nama panggungnya. Dan ketika memikirkan nama belakang untuk Bruno, dia langsung teringat akan para gadis yang menyebutkan dirinya bukan berasal dari bumi, yang lantas membuatnya terpikir akan Mars. Dan jadilah, Peter Gene Hernandez menjadi Bruno Mars, seperti yang kita kenal sekarang.Dia kelahiran 8 Oktober 1985. Dan dalam 25 tahun kehidupannya, hampir apa saja sudah dilakukannya dalam rangka mengasah kemampuan bermusiknya. Dari usia muda, dia sudah tampil meniru dan menyanyikan lagu-lagu Michael Jackson, Elvis Presley, The Isley Brothers, dan The Temptations. Saat usia sekolah, dia memperdalam kegemarannya terhadap Elvis, sekaligus memperluas pengetahuan musiknya lewat Prince dan The Police.

2006-2008 : Awal Karir

Usai menyelesaikan sekolahnya, dirinya pun hijrah ke Los Angeles untuk mewujudkan American Dream-nya. Dan Dewi Fortuna berpihak padanya, saat tahun 2006 lalu dirinya berkenalan dengan Aaron Bay Schuck, yang kemudian menjadi manajernya dan menawari kontrak di bawah nauangan “Atlantic Records”. Bruno Mars berada dalam jalur yang tepat menuju kesuksesan!
Apa yang harus ia lakukan sebagai langkah awal mencapai cita-citanya dalam industri ini? Tidak serta merta menjadi penyanyi, Bruno memulai dengan menulis lagu untuk penyanyi lain. Di muncul di credit untuk album Alexandra Burke (’Perfect’ from “Overcome”), Travie McCoy (”We’ll Be Alright’ from “Lazarus”), Brandy (’Long Distance’ from “Human”), empat buah lagu untuk album “Tomorrow” milik Sean Kingston, juga mega hit Right Round dari album “ROOTS” oleh Flo Rida. He’s the bomb. Dan kalau itu semua belum cukup, dirinya juga menyumbangkan karyanya untuk album Sugababes yang berjudul “Sweet 7″, adalah single “Get Sexy” yang merupakan karya terakhir girlband tersebut dengan seorang original member di dalamnya, “Keisha Buchanan”. Bruno pun mulai menjalal kemampuan vokalnya dengan menyediakan vokal latar di lagu tersebut. Selain itu, bersama “Philip Lawrence” dan “Ari Levine” dibentuklah trio “The Smeezingtons” yang memproduseri sebagian besar dari karya tulis Bruno.

2009-sekarang: Doo-wops & Hooligans

Semakin PD dengan kemampuannya di balik layar, mengapa tidak muncul sebagai vokal tamu. Maka dimulailah kemunculan nama Bruno Mars sebagai guest appearance untuk album “Far East Movement” “Animal” di lagu ‘3D’, dan juga debut “Jaeson Ma” ‘Love’. Menang, ini masih kurang mengangkat kepopuleran Bruno ke permukaan, tapi selanjutnya, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kita pertama tau dirinya dan vokalnya yang kuat dan seksi dari single nomor 1 “B.o.B”, Nothin’ On You juga solo debut Travie McCoy ‘Billionaire’. Kita dibuat lebih tertarik padanya ketimbang pada penyaji utama kedua single tersebut. Dan ini semua cukup untuk menjadi landasan yang kuat untuk tampil sendiri. Just The Way You Are pun diluncurkan pada pertengahan tahun lalu. Dan hasilnya bigger than ever. Jadi juara di berbagai tangga lagu di berbagai belahan dunia. Lagu ini memiliki chorus yang dahsyat, melodi dan lirik yang memorable, dan menampilkan yang terbaik dari Bruno Mars. “”He’s on the way to top and there’s no sign of stopping!””
Untuk Grammy Awards tahun 2010, kita dibuat tercengang dengan munculnya Bruno Mars dalam 6 kategori. “Best Rap Song, Best Rap/Sung Collaboration”, dan “Record Of The Year” untuk ‘Nothin’ On You’, “Record Of The Year” dan “Song Of The Year” untuk ‘F–k You’ yang dinyanyikan oleh Cee-Lo Green, “Best Male Pop Vocal Performance” untuk Just The Way You Are, dan “Producer Of The Year Non-classical” untuk trio The Smeezingtons. Ini bisa jadi menambah koleksi penghargaan yang diraihnya, setelah sebelumnya menyabet Soul Train Music Awards. Album debutnya “Doo-wops & Hooligans” yang berisi 12 track pun dirilis pada akhir Januari 2011 ini di Indonesia. Dan dalam menyambut kemeriahana tas kesuksesan pria bernama asli Peter Gene Hernandez ini, CreativeDisc memilihnya sebagai sorotan selama sebulan penuh dalam Artist Of The Month! Single keduanya “Grenade” pun enggak kalah sukses. Jadi nomor 1 di berbagai tangga lagu di berbagai negara di Eropa, Australia, Asia, dan Amerika. We don’t have to think too much of where that voice coming from, cause we’re here to enjoy the month of love with his singing! It’s Bruno Mars!!!

Konser di Indonesia

Adrie Subono selaku pimpinan Java Musikindo mendatangkan Bruno Mars ke Indonesia pada tanggal 5 April[2] yang konsernya akan bertempat di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.[3][4]
Iya, itu bener. Nanti tanggal 5 April konsernya. Kebetulan dia kan mau main di Manila, Filipina, nah langsung kita tarik untuk main di Indonesia. Kebetulan juga kan dia lagi happening banget, jadi ya langsung kita tawarin buat konser di sini.[2]
Untuk tiket dijual pada 3 Februari[2] dengan harga Festival Rp 600.000,00 dan Tribune Rp 500.000,00.[3][5] Tiket konser kali ini lebih murah dibanding Maroon 5 karena beda kelas. Namun Java Musikindo memastikan Bruno Mars ini juga tak kalah dengan Maroon 5 dalam banyaknya penggemar.[2] Ketika promotor musik Java Musikindo membuka penjualan tiket konser Bruno Mars, kurang dari 7 jam sekitar 7 ribu tiket konsernya habis terjual.[6]

Bruno Mars baru pertama kali mengadakan konser di Indonesia, bukan berarti penampilan Bruno Mars sepi dari penonton. Ternyata cukup banyak memiliki penggemar di Indonesia. Terbukti dengan habisnya penjualan tiket konsernya dan penuhnya penonton di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta dan sebelumnya mereka pun rela antri untuk bisa menonton penampilan Bruno Mars.[7]
Bruno Mars mengawali penampilan dengan beraksi menabuh drum. Dia langsung membawakan lagunya yang cukup hits, "The Other Side". Tepukan tangan dari penonton yang sebagian besar remaja ini langsung menggema. Single dari Bruno Mars tersebut sangat akrab di telinga penggemarnya.[7] Dia yang semalam mengenakan topi dan kaos bergaris dengan paduan rompi kemudian membawakan lagu lainnya yang berjudul "Out First Time" dan "Runaway Baby". Selama di panggung pun, Bruno sangat akrab menjalin komunikasi dengan para penonton.[7][7]}}
Penonton dan penggemar pun tidak kecewa telah membeli tiketnya dan merasa senang dengan penampilannya. Mars juga janji akan mengadakan konser lagi di Jakarta, karena mendapat sambutan yang meriah dari para penggemarnya di Indonesia. Para remaja juga lebih memilih melihat konser Bruno Mars dari pada Justin Bieber karena konser Justin Bieber yang betepatan dengan tanggal Ujian Nasional.[7]
Bruno Mars dipastikan akan menggelar konser di Indonesia, tepatnya di Sentul International Convention Center pada 15 April 2013. Kabar ini diberikan oleh pihak promotor melalui twitternya dengan username @adi_ent pada 11 Maret 2013 silam.

Sejarah Ditemukannya Candi Borobudur

Candi Borobudur pertama kali ditemukan
Candi Borobudur pertama kali ditemukan
Sejarah Ditemukannya Candi Borobudur Pertama Kali [Plus Foto] - Candi Borobudur telah menjadi satu dari Tujuh keajaiban dunia. Mungkin banyak sobat pembaca yang mengetahui sejarah masa lalu candi Borobudur ini dari literature yang ada dan bahkan sudah sering mengunjunginya. Tapi apakah sobat tahu mengenai sejarah ditemukannya Candi Borobudur pertama kali?
Sebuah bangunan misterius di masa lalu yang pernah hilang ditelan amukan letusan Gunung Merapi ini kembali ditemukan Tahun 1814 Sang penjajah Belanda.
Untuk lengkapnya silahkan menyimak artikel sejarah ditemukannya Candi Borobudur di bawah ini.

Candi Borobudur di masa lalu
Candi Borobudur di masa lalu
Candi borobudur Terkubur Lahar Merapi
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa ahli mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingi rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi.
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur
Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.
Reruntuhan Candi Borobudur sebelum di pugar
Reruntuhan Candi Borobudur sebelum di pugar
Sejarah ditemukannya candi borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur.
Biara di Budur istilah awal Candi Borobudur
Biara di Budur istilah awal Candi Borobudur
Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.
Sejarah pertama kali ditemukannya Candi Borobudur
Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu.
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur yang legendaris
Candi Borobudur warisan budaya bangsa
Setelah dibersihkan se lama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Candi Dieng Sejarah Deskripsi Dan Kronologinya

Candi Dieng saat ini berjumlah delapan Buah, Namun diperkirakan masih ada Candi-candi lain yang masih terkubur atau telah menjadi puing-puing seperti terlihat berserakan disekitar Kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng.

Sebagaimana pada umumnya candi-candi di Jawa, Candi Dieng memiliki corak agama Siwa. Dari sebuah Prasasti yang ditemukan didalam kompleks, terdapat angka tahun 713 saka atau sama dengan 809 masehi, sehingga kemungkinan besar Candi-Candi Dieng berasal dari abad VIII-IX. Namun terdapat kemungkinan lain  bahwa Candi-candi tersebut ada yang lebih tua yaitu dari sekitar pertengahan abad VIII.
Candi-candi di Dieng memiliki nama-nama tokoh pewayangan seperti Candi Arjuna, candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa,Candi Sembadra, Candi Bima, Candi Dwarawati,Candi  Gatotkaca. Tapi nama-nama tersebut jelaslah bukan saduran Tokoh Mahabharata, hal tersebut terlihat dari nama salah satu Candi yang adalah tokoh Punakawan yaitu Candi Semar.
Kompleks Candi Dieng diperkirakan merupakan bangunan Candi Siwa Tertua dari Masa Klasik Tua.

Deskripsi dan Kronologi Candi Dieng


Mengenai Candi Dieng pernah disinggung dalam buku Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (1923) yang ditulis oleh N.J.Krom. Dalam buku tersebut N.J Krom mengulas seputar kronologi candi-candi Jawa Tengah berdasarkan ragam hias Kala-makaranya.
Penulis lokal yang pertama membahas mengenai Dieng adalah Soetjipto Wirjosuparto. Dalam bukunya yang berjudul Sedjarah Bangunan Kuna Dieng (1957). Menurut Beliau, Kompleks Dieng ini pertama kali dikunjungi tahun 1814 oleh H.C.Cornelius, dan menurut laporannya, dataran Dieng masih berupa danau dan di antara candi-candinya ada yang terendam air.  Baru tahun 1856 J.van Kinsbergen membuat gambar candi-candi Dieng ini, air dialirkan sehingga dataran menjadi kering.
Dilihat sepintas, Candi Dieng mirip dengan bangunan kuil-kuil di India. Namun jika dilihat lebih detail maka akan terlihat jelas perbedaannya.

Ciri-ciri umum candi-candi di Dieng, berdenah bujur sangkar, mempunyai tiga bagian candi, yaitu kaki-tubuh-atap. Perkecualian terdapat pada candi Semar, karena berdenah empat persegi panjang, dan atap tidak menjulang seperti candi-candi lainnya, melainkan berbentuk padma (sisi genta).  Demikian pula di antara candi-candi tersebut, candi Bima mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan ketujuh candi lainnya, untuk lebih jelasnya akan di deskripsikan tiga buah candi yaitu candi Arjuna,  candi Semar dan candi Bima.

Candi Arjuna dimasukkan ke dalam seni bangunan Dieng Baru, berdenah bujur sangkar berukuran 6 meter x 6 meter, dengan pintu menghadap ke barat. Candi didirikan di atas fondasi berupa tanah lembut semacam pasir keputihan.  Fondasi disini maksudnya pemadatan tanah di bawah candi, untuk memperkuat tanah sebelum didirikan candi.Seperti lazimnya candi-candi Klasik Tua, kaki candi dihias dengan perbingkaian, demikian pula bagian bawah tubuh candi.  Namun candi Arjuna dan candi-candi Dieng lainnya tidak memiliki bingkai bulat (kumuda), hanya bingkai rata dan bingkai padma (sisi genta).
Dinding tubuh candi Arjuna dihias oleh 3 relung pada 3 sisinya yang sekarang telah kosong tidak ada arcanya.  Bagian atas relung masing-masing relung dihias dengan ragam hias kepala kala tanpa dagu, dan dihubungkan dengan sepasang makara oleh bingkai relung.  Pintu candi di sebelah barat, dengan hiasan ragam hias kepala kala pula, dan dihubungkan oleh bingkai pintu dan pipi tangga ke sepasang makara yang di hias oleh burung kakaktua di mulutnya yang menganga.

Atap candi terdiri dari tiga lapis (bhumi), ukurannya makin ke atas makin kecil dan di akhiri oleh puncak yang mungkin berbentuk buah keben (ratna).  Kemungkinan ini di ajukan setelah melihat hiasan pada sudut2 lapisan atap berbentuk replika candi.  Kepastian bentuk tidak dapat diajukan, karena atap telah rusak.  Puncak candi bukan stupika (dagoba), karena candi Arjuna dan candi Dieng secara keseluruhan bersifat agama Siwa, dan bukan bersifat agama Buddha. Bentuk atap candi Arjuna mirip dengan atap candi gaya India Selatan (gaya Dravida).

Pada tahun 1924 seorang arkeolog Belanda pernah meneliti candi Arjuna, dan menurut pendapatnya, ukuran dan bagian-bagian candi Arjuna jelas mengikuti aturan Vastusastra.  Namun bagaimana gaya candi-candi Dieng lainnya belum ada laporan, kecuali candi Bima yang beratap gaya India Utara (gaya Arya).

Ragam hias sangat sederhana, atap candi dipenuhi dengan ragam hias antefiks (simbar), dan hiasan Kala-makara pada pintu candi dan ketiga relung pada badan candi.  Bingkai pintu ini pada bagian bawah dihubungkan dengan pipi tangga yang melengkung pada kiri kanan tangga masuk.

Ruangan tengah (garbhagrha) telah kosong, dahulunya mungkin diisi arca Siwa yang mungkin sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.  Yoni lapik arcanya sekarang masih ada di dalam ruangan.

Candi Semar. Di hadapan candi Arjuna berdiri sebuah candi yang berdenah empat persegi panjang berukuran 7x3.50 meter, dengan pintu menghadap ke timur. Seperti candi-candi lainnya, candi Semar memiliki kaki-tubuh dan atap.  Alas kaki candi dan alas tubuh candi dihias dengan perbingkaian berupa bingkai padma (sisi genta) dan bingkai rata. Pintu dihias dengan kala-makara, tubuh candi diberi bidang penghias yang kosong.  Atap candi bentuknya sangat unik, karena tidak berlapis seperti halnya candi Arjuna dan candi-candi lainnya, namun hanya satu lapis melengkung ke atas, bentuknya seperti padma yang besar. Puncak atap berbentu apa, sudah tidak diketahui karena telah hilang.

Candi Semar ini berfungsi sebagai candi Perwara, atau candi pengiring.  Apa yang diletakkan di ruangan candi tidak jelas.  Apabila kita bandingkan dengan kompleks kuil di India, bangunan yang berhadapan dengan bangunan utama, biasanya dipakai untuk menempatkan arca Nandi, vahana (kendaraan) Siwa.

Candi Perwara semacam candi Semar, selain di Dieng juga ditemukan pada candi-candi kuna tua masa Klasik tua,  misalnya pada candi Gedongsanga.

Belasan Benda Diduga Peninggalan Majapahit Ditemukan di Hutan

 




SITUBONDO - Belasan benda diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit ditemukan di lereng Gunung Baluran, Kabupaten Sutubondo, Jawa Timur.
Ada 14 benda purbakala yang ditemukan oleh warga bernama Balok Imam Subakti (75), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, pada dua hari terakhir.
Benda-benda tersebut terdiri dari termbikar berornamen, kendi, gerabah, piring keramik, batu lesung, dan kepala Siwa bermahkota.
Balok, Kamis (21/3/2013), mengatakan, dia menemukan benda-benda tersebut saat mencari burung di hutan. Awalnya, dia menduduki sebuah batu kecil saat istirahat, namun dia curiga karena batu tersebut memiliki lubang di tengah.
Menurut Balok, batu itu berbentuk tidak seperti biasanya. Dia pun mengangkat batu yang sebagiannya masih terkubur dan membawanya pulang.
Keesokan harinya, Balok kembali lagi ke tempat itu bersama temannya. Di sekitar penemuan batu pertama, dia kembali menemukan benda lainnya.
Diduga kuat, benda-benda tersebut peninggalan Kerajaan Majapahit saat menyebarkan agama Hindu ke Bali.
Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto, mengatakan, pihaknya sudah menerima informasi temuan benda tersebut. Dia juga sudah melanjutkan informasi itu ke Dinas Purbakala Provinsi Jatim untuk ditindaklanjuti.
Bila terbukti benda-benda itu peninggalan Majapahit, dia berencana membuat museum.



Belasan Benda Diduga Peninggalan Majapahit Ditemukan di Hutan

SITUBONDO - Belasan benda diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit ditemukan di lereng Gunung Baluran, Kabupaten Sutubondo, Jawa Timur.
Ada 14 benda purbakala yang ditemukan oleh warga bernama Balok Imam Subakti (75), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, pada dua hari terakhir.
Benda-benda tersebut terdiri dari termbikar berornamen, kendi, gerabah, piring keramik, batu lesung, dan kepala Siwa bermahkota.
Balok, Kamis (21/3/2013), mengatakan, dia menemukan benda-benda tersebut saat mencari burung di hutan. Awalnya, dia menduduki sebuah batu kecil saat istirahat, namun dia curiga karena batu tersebut memiliki lubang di tengah.
Menurut Balok, batu itu berbentuk tidak seperti biasanya. Dia pun mengangkat batu yang sebagiannya masih terkubur dan membawanya pulang.
Keesokan harinya, Balok kembali lagi ke tempat itu bersama temannya. Di sekitar penemuan batu pertama, dia kembali menemukan benda lainnya.
Diduga kuat, benda-benda tersebut peninggalan Kerajaan Majapahit saat menyebarkan agama Hindu ke Bali.
Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto, mengatakan, pihaknya sudah menerima informasi temuan benda tersebut. Dia juga sudah melanjutkan informasi itu ke Dinas Purbakala Provinsi Jatim untuk ditindaklanjuti.
Bila terbukti benda-benda itu peninggalan Majapahit, dia berencana membuat museum.

Senin, 18 Maret 2013

Posisi Peristiwa Situjuh Dalam Sejarah Indonesia

Pendahuluan
Pada makalah ini saya ingin mengemukakan posisi Peristiwa Situjuh Batur 15 Januari 1949 dalam perkembangan sejarah Indonesia. Ini perlu dikemukakan karena selama ini Peristiwa Situjuh sering dipahami sebagai bahagian dari Sejarah lokal Sumatera Barat. Hal itu setidaknya terlihat dari semangat Peristiwa Situjuh yang dilakukan setiap tahunnya.
Tetapi saya pribadi tidak terlalu berpretensi untuk mengusulkan bahwa peristiwa itu menjadi bahagian dari sejarah nasional secara legal formal, karena hal yang sangat penting adalah memberikan kesadaran akan sejarah pada setiap orang, baik masyarakat maupun pemerintah. Satu hal yang sangat penting menurut saya adalah melakukan pengkajian ulang mengenai Peristiwa Situjuh Batur dan Limapuluh Kota umumnya . Kalau memang kita ingin peristiwa-peristiwa sejarah di sekitar daerah ini diperhatikan. Karena dengan menulis, orang akan membaca. Tulisan dan penerbitanlah satu-satunya jalan untuk mengangkat peristiwa Situjuh ke ruang publik.
Meletusnya PDRI
Peristiwa Situjuh Batur berkaitan dengan agresi Belanda ke-2, peristiwa itu ditandai dengan dibomnya Yogyakarta dan Bukittinggi oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Rentetan peristiwa itu adalah ditangkapnya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta beserta pemimpin lainnya. Soekarno dan Hatta kemudian dwitunggal itu pun diasingkan ke Bangka.
Peristiwa pemboman terhadap Bukittingi dan daerah sekitarnya tentu menjadi pengalaman yang tragik, romantik sekligus heroik bagi para pelaku dan masyarakat pada masanya. Diketahui pada tangga 18 Desember 1948 pesawat tempur Belanda, meraung di udara Bukittinggi , awalnya aksi pesawat itu dikira pesawat yang membawa Presiden Soekarno yang singgah di Bukittingi untuk selanjutnya pergi ke India.
Kiranya pada pukul 08.00 pagi tanggal 19 Desember Belanda menyerang kota Bukittinggi, Pusat Pemerintahan Sumatera. Selain itu beberapa tempat seperti Pariaman dari arah laut, Padang Panjang, dan Payakumbuh juga diserang oleh Belanda dengan Mustangnya. Akibatanya berbagai fasilitas pemerintahan dan masyarakat hancur. Serangan itu diikuti oleh penyebaran pamplet oleh Belanda. Isinya yang penting antara lain Presiden Soerkano dan Wakil Presiden Muhammad Hatta ditangkap oleh Belanda. Selain itu Belanda mengajak semua pihak untuk bekerja sama menghancurkan para “teroris-teroris”, tak lain adalah poara pejuang Republik Indonesia[1].
Dibomnya Bukittinggi sebagai Pusat Pemerintahan Sumatera menimbulkan inisisatif dari beberapa pimpinan yang ada di Sumatera. Pertama inisiatif, Tengku M. Hasan CS. Segera setelah pemboman ia mengadakan pertemuan bersama antara Tengku Muhamammad Hasan (Komisariat Pemerintahan Pusat), Mr. M. Nasroen (Gubernur Sumatera Tengah) dan Mr. Sjafruddin Prawira Negara (Menteri Kemakmuran ) yang kebetulan sedang berada di Sumatera. Pertemuan itu diadakan di gedung kediaman Wakil Presiden M. Hatta. Karean tidk tuntas, pertemuan juga dilakukan di rumah Mr. Tengku Mohammad Hasan[2]. Ada dua hal yang penting digariskan dalam dua pertemuan itu, yaitu ide untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan segera menghimbau rakyat untuk mengungsi. PDRI perlu didirikan untuk menjaga agar jangan terjadi vakum kekuasaan [3].
Kedua insisiatif dari St. M. Rasjid, yang kebetulan pada waktu pemboman yang dilakukan tentara Belanda terhadap Bukittinggi sedang berada di Pariaman untuk menjenguk tiga buah kapal barang yang datang dari Singapura. Ia dengan penuh bahaya melewati Sicincin dan Padang Panjang menuju Bukittingi kira-kira pukul 11.00 wib pagi tanggal 19 Desember. Sementara itu tentara Belanda didengar sudah diterjunkan di Singkarak. Sesampainya di Bukittinggi Rasjid langsung mengadakan rapat dengan mengundang Dewan Pertahanan Daerah (DPD) dan beberapa pejabat daerah untuk bersidang. Karena kesibukan menyelamatakan keluarga untuk mengungsi maka banyak di antara undangan yang tidak hadir. Pada tanggal 20 Desember Mr S.M. Rasjid kembali mengundang kepala-kepala jawatan untuk mengadakan rapat, namun rapat ini gagal karena Bukittinggi terus dibom oleh tentara Belanda. Rapat itu baru terlaksana malam tanggal 20 Desember tersebut. Beberapa instruksi yang penting dari Residen Rasjid yang dirumuskan malam itu adalah: menyelamatkan barang-barang penting kepunyaan pemerintah, mengamankan penduduk, mengusngi keluar kota, tidak boleh bekerjasama dengan Belanda serta membumihanguskan kota sebelum ditinggalkan. Selain itu, Rasjid selaku residen Sumatera Barat juga menghimbau seluruh penduduk untuk memperlambat gerak musuh dengan menumbangkan pohon-pohon ke jalan yang kemungkinan dilewati kenderaan patroli Belanda, merusak jembatan dan sebagainya. Rapat terakir Residen Sumatera Barat adalah pada jam 11.00 tanggal 21 Desember, rapat ini diadakan sebelum Rasjid bersama keluarga meninggalkan Bukitttinggi menuju Payakumbuh.
Sampai di Payakumbuh jam 01.00 malam, Rasjid pun berkumpul dengan jajaran sipil dan militer untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintahan Sumatera Barat atas terjadinya serangan Belanda sejak tanggal 19 Desember. Ironisnya menurut Rasjid pertemuan itu diadakan di rumah dr. Anas, yang oleh masyarakat Payakumbuh dianggap sebagai kakitangan Belanda. Tetapi menurut Rasjid dr. Anas tidak membocorkan hasil pertemuan itu.[4]
Pada tanggal 22 Desember 1948 beberapa pejabat Republik yang ada di Sumatera sudah berkumpul di Halaban, saat itu pula tentara Belanda sudah menguasai Bukittinggi. Segera pada tanggal tersebut PDRI disusun dan kemudian diumumkan ke seluruh pelosok Nusantara bahkan ke mancanegara. Struktur PDRI bisa dilihat sebagai berikut:
Mr. Sjafruddin Prawiranegara: Ketua PDRI/Menetri Pertahanan dan Penerangan/ Mewakili Menteri Luar Negeri.
Mr. Tengku Mohammad Hassan : Wkil Ketua PDRI/Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan/mewakili menteri dalam Negeri dan Menetri Agama.
Mr. Lukman Hakim : Menteri Keuanga/ mewakili Menteri Kehakiman.
Ir. Mananti Sitompul : Menteri Pekerjaan Umum/mewakili Menteri Kesehatan
Ir. Indratjaja : Menetri Perhubungan/mewakili Menetri Kemakmuran
Mr. Sutan Muhammad Rasjid : Menteri Perburuhan dan Sosial/mewakli [5]Menteri Pembangunan dan pemuda serta mengurus soal-soal kemanan.
Dari struktur dan personal yang menjabat itu perlu dipahami bahwa PDRI bukanlah pemerintahan masyarakat Sumatera apalagi Sumatera Barat, karena ia dijabat dari berbagai unsur. Dan tujuannya juga untuk melanjutkan tugas pemerintahan pusat yang sedang vakum.
Hal yang penting dalam konteks ini adalah bagimana kondisi perjuangan PDRI di sekitar Limapuluh Kota dan korelasinya dalam keberadaan Republik Indonesia. Perlu diketahui bahwa PDRI mobil, dan dua pusat pemerintahan yang agak menonjol adalah di Kototinggi (Limapuluh Kota) dan Bidar Alam (Solok Selatan). Dipilihnya Kototinggi sebagai salah satu pusat pemerintahan Sumatera Barat dan PDRI tentu dengan alasan bahwa nagari Kototingi dianggap aman dan srategis.Semenetara Bidar Alam strategis untuk pertahanan dan tidak begitu jauh dari sumber kebutuhan pangan. Kedua daerah ini berada di pinggiran dan lebih mudah untuk berhubungan keluar.
Pemerintah dan Masyarakat Lima Puluh Kota: Memperjuangkan Republik dari Nagari
Selain Yogyakarta dan Bukittinggi beberapa kota kecil di Sumatera juga diserang oleh Belanda, salatu satunya adalah Payakumbuh. Beberapa nagari yang dekat dengan kota Payakumbuh diserang dari udara dengan poesawat Catalina sehingga mengakibatkan hancurnya beberapa fasilitas dan mengenai beberapa penduduk. Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Kapupaten Limapuluh, Anwar ZA:
“tembakan dari pesawat udara yang dilancarkan Belanda mengenai 2 (dua) buah bis yang bermuatan penuh: sebuah bis terkena tembakan di Piladang (arah barat kota payakumbuh) dan seluruh penumpangnya korban’ dan satu lagi du batang tabit juga mengorbankan seluruh penumpang bis itu. Semua korban itu diangkat ke RSU Payakumbuh dan dibaringkan di kamar jenazah. ....ada yang pontong badannya, pecah kepalanya, putus kaki dan sebagainya.”[6]
Memperhatikan perkembangan kondisi, pada tanggal 20 Desember Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota yang berpusat di Payakumbuh langsung mengadakan koordinasi dan membicarakan mengenai kemungkinan langkah-langkah yang mesti diambil untuk menyelamatkan pemerintahan dan keselamatan masyarakat. Dua hari setelah itu Pemerintah Darurat Republik Indonesia terbentuk di Halaban. PDRI dan Belanda pun ibarat berkejaran dengan maut. Tak lama setelah anggota petinggi PDRI melewati kota Payakumbuh, maka belanda pun menguasai penuh kota tersebut.
Kondisi Pemerintahan Lima Puluh Kota tercerai berai, kecuali dikabarkan bahwa Bupati Alifudin Saldin masih berada dalam kota. Sebahagian pegawai terpencar ke Payakumbuh Utara seperti Koto Tinggi dan sebahagian lagi terpencar ke selatan seperti ke arah Situjuh dan sebagainya. Akibat keterpencaran itu maka sulit bagi Bupati untuk mengkoordinasikan Pemerintahan. Untuk menyelamatkan pemerintahan Gubernur Militer Sumatera Barat di Kototinggi mengangkat Arisun St Alamsyah sebagai Bupati Militer. Dalam pemerintahan yang baru Arisun mencoba untuk mengorganisasi wilayah kecamatan di Lima Puluh Kota. Namun belum berapa lama memerintah Arisun gugur di Situjuh Batur.[7]
Berbeda dengan Bukittinggi, ketika dilancarkan Agresi Militer kedua , Kabupaten Limapulupuh Kota menjadi lebih sibuk. Karena daerah itu menjadi pusat administratif Sumatera Barat dan basis bagi perjuangan PDRI. Sejak dijadikan Kototingggi sebagai salah opusat aktivitas PDRI dan Pusat Pemerintahan Sumatera Barat, tak kurang 700 orang pegawai dan pejabat Sumatra Barat beraktivitas di sana. Konsumsi pegawai itu selama PDRI menjadi lebih ringan karena adanya dukungan dari masyarakat dan di-back up oleh kebijakan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Pengakuan Rasjid:
“Bukan hanya yang berwujud materi saja yang dikorbankan rakyat kecamatan Gunung Mas. Bahkan jiwa pun ikut mereka korbankan dengan ikut pergi ke front di sekitar payakumbuh untuk bertempur dengan Belanda. Tidak kuat rasanya saya menuliskan bagimana menanggung beban utang budi dan pengorbanan dari semua rakyat seluruh kecamatan itu. Sampai nyawa bercerai dengan badan tak akan saya dapat melupakan kebaikan hati mereka”[8]
Sebelum peristiwa Situjuh Batur 15 Januari 1949, beberapa kebijakan untuk mendukung perjuangan sudah dikeluarkan oleh Bupati Militer Arisun, namun tampaknya koordinasi terhadap pemerintahan tampaknya kurang jelas.Sehingga intruksi yang dikeluarkan Bupati banyak yang tidak dilakukan. Sementara maslah sosial dan ekonomi juga berkembang sejalan dengan banyaknya para pengungsi dari daerah lain yang datang ke nagari-nagari di Limapuluh Kota.
Beruntunnya serangan Belanda sejak tanggal 19 Desember tampaknya membuat tidak berdaya tentara, polisi dan barisan perjuangan. Semuanya sudah lari menyelamatkan diri dan keluarga ke nagarai-nagari. Kelemahan itu kelihatan saat terjadinya patroli bermotor Belanda ke Koto Tinggi tanggal 10 Januari 1949. Artinya beberapa instruksi dari Gubenrnur Militer dan Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota tidak terlaksana.
Perisyiwa patroli bermotor ke Kototinggi tanggal 10 Januari mendapat perhatian serius dari Gubernur Militer, S.M. Rasjid. Malam setelah patroli Bea mundur ke Payakumbuh, Rasjid mengundang seluruh elit perjuangan di Kototinggi untuk rapat. Selain rasjid, beberapa orang yang ikut rapat malam itu antara lain, Komandan teritorum Sumatera Barat, Letkol. Dahlan Ibrahim, Mayor a Thalib, Ketua MPRD, Chatib Sulaiman, Djuir Muhammad dan Anwar St Saidi. Rapat itu telah memutuskan untuk membentuk koordinasi yang lebihbaik baik antara tentara, BPNK dan wali perang, perusakan jalan dan mengadakan pertemuan yang lebih luas di Situjuh Batur untuk mengadakan kordinasi . Hal yang juga penting dan diagendakan adalah memecahkan maslaah pasukan batalyon singa harau yang pindah ke Payakumbuh.[9]
Peristiwa patroli Belanda tanggal 10 januari ke Koto Tinggi juga menjadi catatan penting bagi pemerintah Limapuluh Kota. Untuk itu, beberapa strategi yang diinstruksikan oleh Pemerintah Limapuluh Kota sebelum perisitiwa Situjuh Batur pun dikeluarkan. Intruksi itu antara lain, rumah-rumah yang berada di pinggir jalan jangan dikunci pada siang hari, sebab musuh biasanya lewat pada siang hari, karena itu sebaiknya ada anggota keluarga yang tinggal untuk memata-matai musuh. Kemudian diharapkan di setiap 500 meter pada jalan-jalan besar diharuskan merebahkan pohon ke jalan untuk merintangi musuh. Kemudian diharuskan membunyikan tontong bila diketahui ada musuh yang masuk nagari. Setiap Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) hendaklah meningkatkan aktivitasnya siang dan malam. Instruksi lain adalah meruntuhkan beberapa jembatan penting di sekitar kota, sehingga Belanda tidak bisa patroli ke luar kota.[10]
Tragedi dan Problematika Perjuangan
Peristiwa Situjuh Batur sudah terjadi 58 tahun yang lalu. Peristiwa itu pasti meninggalkan kesan yang dalam bagi para pelakunya dan masyarakat yang menyaksikannya. Mungkin di sana ada duka, romantisme sejarah, heroik dan sebagainya. Kadang kala pembicaraan peristiwa Situjuh hampir identik pula dengan pengkhianatan Kamaluddin Tambiluak, seorang Letnan II yang pernah diutus dalam penyelundupan hasil bumi ke Singapura oleh Divisi Banteng.Namun secara lebih jernih dan luas peristiwa Situjuh mesti ditempatkan di atas krisis yang lebih luas, baik di tingkat pemerintahan PDRI maupun di Lima Puluh Kota. Tidakkah beberapa faktor sebelum peristiwa Situjuh Batur membuka peluang untuk terjadinya tragedi?
Dari arsip-arsip Limapuluh Kota sebelum peristiwa Situjuh Batur, tidak banyak koordinasi yang berarti untuk perjuangan di daerah ini. Terakhir sekali Bupati Arisun hanya memberikan pembagian tugas sebagai ganti dari Susunan Organisasi pemerintahan, seperti bidang Politik, Pertempuran, Keamanan, Propaganda Siasat dan persenjataan. Susunan ini tentu lemah dan tidak effektif untuk perjuangan.[11]
Sementara dalam bidang militer terjadi perselisihan dan salah paham di antara kelompok militer. Kembalinya 2 pasukan Singa harau dari Sawahlunto masuk dalam agenda rapat yang akn dibicarakan di Lurah Kincir, sehingga dua pasukan itu tidak diikutkan dalam mengawal rapat. Pengawalan rapat lebih mengandalkan perusakan jalan. Pada hal rapat yang sangat penting itu dihadiri oleh oKetua MPRD Sumatera Barat.
Di kalangan tentara terjadi gap-gap yang bermuara pada konflik. Ada diantara tentara yang saling bunuh. Sebelum rapat besar di Situjuh Batur, sudah terjadi pertengkaran mengenai tempat rapat antara Syofyan Ibrahim (Kepala Intelijen Divisi IX Sumbar dengan Kamaluddin tambiluak anggota perlemngkapan Divisi IX.). Gejala-gejala seperti itu merupakan sinyal tidak kuatnya pertahanan dan keamanan.
Rencana rapat besar di Situjuh Batur sudah tersiar dari mulut ke mulut, baik antara masyarakat maupun antara para pejuang. Isu rapat itu tentu mudah diketahui oleh Belanda yang pendidikan intelijennya jauh lebih baik dari tentara Republik. Rapat itu seperti disambut dengan begitu semangat, initerlihat dari aktivitas masyarakat meruntuhkan jembatan, menumbangkan pohon dan sebagainya. Aktivitas seperti ini mudah diketahui Belanda, apa lagi sehari sebelum rapat pesawat capung Belanda sudah melintas-lintas di angkasa Situjuh. Ini tentu bahagian dari tanda-tanda yang kurang kondusif. Tetapi rapat terus dilangsungkan, dan diserang oleh Belanda.
Peristiwa Situjuh pada suatu sisi memang merenggut puluhan nyawa, dan melukai banyak orang. Namun Peristiwa Situjuh Batur telah menjadi titik tolak untuk melakukan perjuangan di basis PDRI. Konsolidasi tentara dan pemerintahan dilakukan setelah itu. Tentara yang sebelumnya tidak terkoordinasi kini dipimpin dalam satu Komando Pertempuran Limapuluh Kota, di bawah pimpinan Kaptem M. Syafei.[12] Di bawah koordinator Syafei, Payakumbuh yang dikuasai Belanda diserang pada tangal 3 Januari secara serentak. Serangan itu telah memberikan rasa gembira, meningkatkan kepercayaan di hati rakyat kepada pemerintah dan tentara. Peristiwa penyerangan yang menghancurkan beberap pos Belanda itu cukup memberikan keyakinan bahwa Republik Indonesia masih ada, karena itu kerjasama antara masyarakat dan pemimpin pun dirasakan.

Penutup
Tiap tahun peringatan Peristiwa Situjuh terus dilakukan, tiap peringatna itu ada saja cerita baru mengenai peristiwa, baik yang dituliskan di media massa maupun dalam kelisanan. Tentu, Kabupaten Limapuluh Kota sebagai salah satu basis Republik, khusunya PDRI menyimpan banyak memori. Tetapi sayang pelaku sebagai penyimpan memori itu satu per satu meninggalkan kita. Sayang jika tidak ada rekaman jejak sejarah, atau tepatnya penulisan sejarah yang agak baik mengenai berbagai peristiwa itu. Karena itu penulisan sejarah yang masih belum digali itu akan menjadi penting dan mendesak untuk mengungkapkan sejarah yang utuh. Hanya dengan itu setiap peristiwa bisa diwariskan. Juga akan ironis, bila sejarah hanya dituliskan dengan orientasi “hero” dan sebagai legitimasi dan politis. Jika tidak ada bacaan sejarah yang ditinggalkan maka sejarah iotu akan bisu pada generasi berikutnya.***

*Makalah disampaikan dalam acara 58 tahun Peringatan Peristiwa Situjuh yang diselenggarakan di Kecamatan Situjuh Limo Nagari, Kabupaten Limopuluh Kota.**Drs. Wannofri Samry, M.Hum. magister Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas dan Ketua Pusat Studi Informasi, Dokumentasi dan Kesejarahan (PUSINDOK) Unand Padan
[1] Marah Joenoes, Mr. H. Sutan Muhammad Rasjid, Perintis Kemrdekaan, Pejuang Tangguh, Berani dan Jujur. PT Mutiara Sumber Widya, 2003. hal. 101-102
[2] St. Mohammad rasjid, Di Sekitar PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1982. hal. 11
[3] Ide pembentuk PDRI pertama sekali muncul dari Mr. Sjafruddin Prawira Negara di rumah Tengku Mohammad Hassan, yang dikemukakan kepada Mr. Tngk Mohammad Hasan, Kolonel Hidayat (Panglima Tentara teritorium Sumatera) dan M. M. Nasroen (Gubernur Sumatera Tengah). Lebih jelas lihat Rasjid, ibid. hal.11-13, Wannofri Samry, Pedesaan dalam Revolusi: Pengungsian, Partisipasi, dan Mobilisasi rakyat Sumatera Barat. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas/OPF, 1984/1985. hal. 13
[4] Menurut rekaman arsip Belanda Dr. Anas pernah mendapatkan training masalah kesehatan di Belanda. Lihat Audrey Kahin, Strugle for Indpendence: West Sumatra in The Indonesiaan national revolution 1945-1950. A thesis for the Degree of Doctor of Philosophy at Faculty of The Graduate School of Cornell University, may 1970. p. 296.
[5] Keterangan lebih jauh
[6] Anwar ZA, “Keadaan pemerintahan PDRI: Hubungan Administratif dan Rakyat Sivil di Tuingkat Kabupaten (Kasus L Kota).. Makalah disampaikandalam Seminar nasional Sejarah PDRI 1948-1949 Padang, 22-24 Desember 1993. hal.2-3.
[7] Anwar ZA, Ibid.
[8] Ibid. hal. 116
[9] Azwar Dt. Mangiang, Menyingkap Tabir yang Mwenyelimuti Peristiwa Situjuh batur 15 Januari 1949. hal. 9-10.
[10] Beberpa instruksi dikeluarkan seminggu sebelum terjadi peristiwa Situjuh Batur. Lihat umpamnay” instruksi Bupati Militer Limapuluh Kota no2 dan nomor tiga tanggal 12 Januari 1949”. Arsip.
[11] Arsip Rapat Kabupaten Limapuluh Kota tanggal 11 Januari 1949.
[12] Nama-nama komando pertempuran itu yaitu; Sektor Pertempuran Naga Jantan, Garuda mas, Merapi, dan Singa Harau. Azwar Dt. Mangiang, Peristiwa Situjuh… hal. 47.
Labels: working paper
Name: Wan Samry
Location : Padang, West Sumatra, Indonesia
Lahir  : di Limapuluh Kota Sumatera Barat 28 Nopember 1967.
Kini aktif mengajar di Jurusan Sejarah Fak.Sastra Universitas Andalas Padang. Tamatan S2 Universitas Indonesia Jakarta.
Karya berupa Puisi-puisi dan artikel, dipublikasikan di berbagai media massa daerah dan ibu kota. Sebahagian lagi dipublikasikan dalam antologi Rantak 8: Antologi Delapan Penyair Sumatera Barat (Padang, 1991), Rumpun: Antologi Penyair Muda Sumatera Barat (Taman Budaya Padang, 1992), Antologi Penyair Sumatera Barat (Taman Budaya Padang, 1993), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Bandung: KSI-Angkasa, 1997).
Pernah juga memenangkan Sayembara Penulisan Puisi Indonesia (harapan II dan III) yang dilaksanakan Direktorat Kesenian RI tahun 1990 dan nominator Sayembara Puisi anti Kekerasan KSI 2001.
Ketika Zaman Berkisar (Forum Kajian Sastra Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, 2000) merupakan buku puisi tunggalnya, edisi photo copy.
Sebagai penulis dan peneliti, sebagian hasil riset dan tulisan sudah dibukukan. Sekarang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Informasi, Dokumentasi dan Kesejarahan (PUSINDOK) Universitas Andalas.
Sumber : http://samry.blogspot.com/

Minggu, 17 Maret 2013

Perancang Lambang Garuda Pancasila yang Terlupakan

Siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.
Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.
Sumber: selokartojaya.blogspot.com